
KOLAKAsatu.com, NASIONAL – Selama bertahun-tahun, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sering kali terjebak dalam stigma yang sama: papan nama yang mentereng di kantor desa, namun keropos di dalam buku kas. Di Desa Panggung Baru, Kabupaten Tanah Laut, narasi klasik tentang inefisiensi dan administrasi yang carut-marut sedang coba dibongkar habis.
Pada Kamis (16/04), sebuah langkah radikal diambil. Bukan dengan suntikan modal semata, melainkan dengan pembenahan isi kepala dan sistem kerja para pengelolanya melalui pendampingan intensif dari tim ahli Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala).
Menambal “Kapal Tanpa Kompas”
Koordinator Program Studi Sarjana Terapan Akuntansi Perpajakan Politala, M. Riduan Abdillah, S.E., M.Si., Akt., CA., melihat BUMDes bukan sekadar entitas bisnis kecil, melainkan tulang punggung kedaulatan desa.
“Desa menyimpan potensi raksasa yang kerap luput. Jika dikelola secara profesional, BUMDes adalah kunci kemandirian. Ini bukan sekadar soal mencari laba, tapi tentang kesejahteraan masyarakat secara utuh,” tegas Riduan.
Namun, kenyataan di lapangan sering kali pahit. Minimnya pemahaman regulasi dan pencatatan keuangan yang “setali tiga uang” membuat banyak BUMDes berjalan tanpa arah—bak kapal tanpa kompas di tengah samudera kompetisi ekonomi.
Strategi Dua Jalur: Membedah Hulu dan Hilir
Tim Politala menyadari bahwa penyakit BUMDes bersifat komplikasi. Oleh karena itu, mereka menerapkan strategi “Dua Jalur” untuk membedah urat nadi organisasi:
- Jalur Hulu: Transformasi Badan Hukum
Anto Andreawan, S.E., M.Si., yang mengawal Tim 1, menyoroti urgensi perubahan status BUMDes pasca-terbitnya UU Cipta Kerja dan PP 11 Tahun 2021. Kini, BUMDes adalah entitas berbadan hukum resmi.
- Implikasi: Pengelolaan konvensional atau “kekeluargaan” tanpa standar profesional harus ditinggalkan.
- Target: Menciptakan tata kelola yang akuntabel agar BUMDes memiliki daya tawar tinggi untuk mengakses permodalan perbankan dan menjalin kemitraan strategis dengan pihak ketiga.
- Jalur Hilir: Benteng Akuntabilitas
Di sisi operasional, Haris Reza Fathony, S.Akun., M.Ak., memimpin Tim 2 untuk merapikan benang kusut administrasi. Baginya, setiap angka yang tercatat adalah perlindungan hukum bagi pengelola.
- Pencegahan Fraud: Administrasi yang rapi adalah instrumen utama meminimalisir risiko kecurangan (fraud).
- Transparansi: Pembukuan yang jelas akan membangun kepercayaan warga, sehingga partisipasi publik dalam memajukan BUMDes meningkat.
BUMDes Sebagai Motor Swasembada Pangan
Salah satu poin krusial dalam pendampingan ini adalah mengawinkan potensi BUMDes dengan Kepmendes PDT Nomor 3 Tahun 2025. Regulasi terbaru ini mengamanatkan penggunaan Dana Desa untuk ketahanan pangan.
Di Panggung Baru, BUMDes diarahkan untuk menjadi agregator ekonomi:
- Distribusi Input: Menjadi penyedia pupuk dan bibit yang terjangkau bagi petani.
- Hilirisasi: Menangani proses pasca-panen agar nilai tambah komoditas tetap tinggal di desa.
- Lumbung Mandiri: Mengelola sistem lumbung pangan desa untuk menjaga stabilitas harga dan stok.
| Sektor Fokus | Target Transformasi |
| Legalitas | Migrasi dari usaha informal ke entitas berbadan hukum resmi. |
| Keuangan | Digitalisasi pencatatan dan eliminasi celah manipulasi data. |
| Ketahanan Pangan | Pengelolaan unit usaha produktif berbasis lumbung desa. |
Oase bagi Perangkat Desa
Respons positif datang dari pemerintah desa. Muhammad Syafitri, Kepala Seksi Pelayanan dan Kesejahteraan Desa Panggung Baru, mengakui bahwa selama ini pengelola sering dihantui ketakutan akan kesalahan administrasi.
“Pendampingan ini seperti oase. Kami akhirnya bisa berdiskusi langsung soal cara mengelola keuangan yang benar dan amanah. Kami ingin maju, tapi kami ingin maju dengan cara yang aman secara hukum,” ujarnya.
Bukan Sekadar Garis Finis
Langkah yang dimulai di Balai Desa Panggung Baru ini menegaskan satu hal: tertib administrasi bukanlah beban birokrasi, melainkan landasan pacu.
Restorasi BUMDes yang dilakukan Politala adalah upaya memastikan bahwa setiap rupiah Dana Desa tidak menguap begitu saja, melainkan berputar, tumbuh, dan kembali untuk memakmurkan warga Panggung Baru sendiri. Kemerdekaan finansial desa kini tak lagi sekadar mimpi di atas kertas, melainkan sebuah proses yang sedang dibangun, angka demi angka.
Publisher: Yusrif
