Seekor Paus Sperma 8 Meter Mati Terdampar di Pomalaa

Home, Kolaka, LINGKUNGAN219 Dilihat
Seekor Paus Sperma 8 Meter Mati Terdampar di Pomalaa
Seekor Paus Sperma 8 Meter Mati Terdampar di Pomalaa

KOLAKA, KOLAKAsatu.com – Pesisir Pantai Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, mendadak mencekam. Seosok raksasa laut, seekor Paus Sperma (Physeter macrocephalus) sepanjang kurang lebih 8 meter, ditemukan terdampar dalam kondisi tak bernyawa pada Selasa (3/2/2026) pagi.

Fenomena ini bukan sekadar tontonan, melainkan ancaman biologis yang kini menghantui warga Kabupaten Kolaka.

Kondisi bangkai yang mulai memasuki fase pembusukan memicu kekhawatiran serius. Secara biologis, bangkai mamalia laut sebesar ini menyimpan risiko besar.

Proses dekomposisi di dalam perut paus menghasilkan gas metana (CH_4) dan hidrogen sulfida (H_2S) yang terperangkap di bawah lapisan lemak tebal.

Seekor Paus Sperma 8 Meter Mati Terdampar di Pomalaa
Seekor Paus Sperma 8 Meter Mati Terdampar di Pomalaa

Jika tekanan gas ini tidak dikelola, bangkai tersebut secara harfiah bisa menjadi “bom waktu” yang meledak.

Selain risiko ledakan, cairan tubuh yang keluar dari pori-pori kulit paus yang membusuk mengandung bakteri anaerob berbahaya.

“Setiap detik keterlambatan penanganan akan memicu peningkatan risiko penyebaran patogen. Cairan hasil pembusukan ini bisa mencemari air laut dan menjadi sumber infeksi bagi manusia yang bersentuhan langsung atau menghirup aromanya,” ungkap seorang ahli kelautan yang memantau situasi tersebut.

Titik terdamparnya paus ini berada sangat dekat dengan akses jalan utama By Pass Poros Kolaka-Pomalaa.

Mobilitas warga yang tinggi di jalur ini meningkatkan risiko paparan bau busuk dan penyebaran mikroorganisme patogen melalui udara.

Warga sekitar mulai merasa waswas. “Pihak keamanan perlu segera bertindak mengamankan lokasi, melarang warga mendekat atau bahkan menyentuh bangkai. Ini bukan objek foto, ini bahaya kesehatan,” ujar salah satu penduduk Desa Totobo.

Pemerintah Kabupaten Kolaka kini dituntut bergerak taktis. Berdasarkan prosedur standar (SOP) penanganan mamalia laut terdampar, terdapat tiga opsi utama yang bisa diambil yakni, Menggunakan alat berat di area pasang surut (membutuhkan lahan luas dan kedalaman tertentu).

Metode paling tuntas untuk mematikan bakteri, namun sulit dilakukan untuk ukuran 8 meter.

Menarik bangkai ke laut dalam dengan pemberat agar menjadi sumber nutrisi ekosistem laut (whale fall).

Situasi di Pantai Totobo saat ini adalah balapan dengan waktu. Jika tidak segera dievakuasi secara teknis, cairan pembusukan dipastikan akan meresap ke dalam pasir pantai dan mencemari ekosistem pesisir desa dalam jangka panjang.

Laporan: EDO