Siska Karina Imran Merajut Pesan Langit untuk Wajah Kota Kendari

Kendari64 Dilihat
Siska Karina Imran Merajut Pesan Langit untuk Wajah Kota Kendari
Siska Karina Imran Merajut Pesan Langit untuk Wajah Kota Kendari

KENDARI, KOLAKAsatu.com – Siang itu, Jumat (16/1/2026), suasana di Kelurahan Lahundape terasa lebih khidmat dari biasanya.

Di Masjid Syakira Rahmatillah, Kecamatan Kendari Barat, ratusan pasang mata tertuju pada satu titik.

Bukan sekadar menunaikan kewajiban ibadah, namun untuk merenungi kembali sebuah perjalanan spiritual agung yang melintasi batas logika manusia. Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah.

Di tengah jamaah yang memadati masjid, hadir dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM. Wali Kota Kendari ini tidak datang sekadar untuk menggugurkan kewajiban seremonial.

Ia hadir membawa pesan reflektif, mencoba menarik benang merah antara “pesan langit” dengan realitas “bumi” pemerintahan yang ia pimpin.

Dalam sambutannya, suara Siska terdengar tenang namun bertenaga. Ia mengajak hadirin, yang sebagian besar adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Kendari dan tokoh masyarakat, untuk menyelami kembali esensi perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga menembus Sidratul Muntaha.

Bagi Siska, perintah salat lima waktu yang dibawa turun oleh Nabi bukan sekadar ritual gerakan fisik. Di dalamnya, tersimpan kurikulum kedisiplinan yang paling purba dan otentik.

“Nilai-nilai inilah yang ingin kami hadirkan dalam tata kelola pemerintahan di Kota Kendari, yakni pemerintahan yang jujur, amanah, dan melayani dengan empati,” tuturnya.

Ia seolah ingin menegaskan bahwa di balik tumpukan berkas administrasi dan kebijakan publik, harus ada “ruh” spiritual yang menjadi fondasi.

Sebuah birokrasi tanpa nilai spiritual, baginya, hanyalah mesin kaku yang kehilangan sisi kemanusiaannya.

Sebagai Ketua Komisariat Wilayah (Komwil) VI Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), Siska memiliki pandangan yang melampaui sekadar pembangunan fisik. Di hadapan warganya, ia mendekonstruksi makna kemajuan kota.

Kendari, dalam visi Siska, tidak boleh terjebak dalam perlombaan beton dan aspal semata.

“Kota yang maju adalah kota yang pertumbuhan ekonominya berjalan seiring dengan terjaganya persaudaraan, nilai religius, dan kemanusiaan,” ujarnya tegas.

Kalimat ini menjadi antitesis dari pembangunan kota metropolitan yang seringkali gersang akan nilai sosial.

Bagi Siska, gedung boleh menjulang tinggi, namun jika fondasi persaudaraan retak, kota itu sejatinya sedang runtuh.

Menutup pertemuan yang hangat itu, Siska membuka lebar pintu hatinya dan pintu Balai Kota.

Ia sadar, sebagai manusia dan pemimpin, ia tak luput dari celah. Ia mengundang kritik sebagai energi perbaikan, sebuah check and balance yang diperlukan agar pemerintahan tetap berjalan di rel yang benar, selama disampaikan dengan adab ketimuran yang santun.

“Jika iman dirawat, kebersamaan dijaga, dan pembangunan dijalankan dengan hati, insyaallah Kota Kendari akan tumbuh sebagai kota yang maju, sejahtera, dan dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.

Jumat itu, di Masjid Syakira Rahmatillah, peringatan Isra Mi’raj bukan hanya menjadi pengingat sejarah masa lalu, tetapi menjadi pijakan untuk melangkah ke masa depan menuju Kendari yang tidak hanya megah fisiknya, tetapi juga indah jiwanya.

PUBLISHER: FAJRIN