Hikayat Kasim dan Samudra yang Melunak, Epilog Dua Hari Cemas di Perairan Morowali

Home, Kendari75 Dilihat
Hikayat Kasim dan Samudra yang Melunak, Epilog Dua Hari Cemas di Perairan Morowali
Hikayat Kasim dan Samudra yang Melunak, Epilog Dua Hari Cemas di Perairan Morowali

MOROWALI, KOLAKAsatu.com – Bagi keluarga Kasim Marama, debur ombak di perairan Padei Laut selama dua hari terakhir bukanlah nyanyian alam yang menenangkan. Suara itu adalah teror.

Laut yang membentang antara Menui Kepulauan dan Konawe Utara, yang biasanya menjadi ladang nafkah, mendadak berubah menjadi hamparan kecemasan tanpa tepi.

Lelaki berusia 55 tahun itu seolah ditelan kesunyian samudra sejak Kamis, 15 Januari 2026.

Pagi itu, jarum jam menunjuk pukul 08.00 Wita ketika Kasim memacu longboat berbahan fiber miliknya. Ia meninggalkan Menui, mengarahkan haluan menuju Desa Molore, Konawe Utara.

Ia sempat menepikan perahunya di Desa Buranga untuk mengisi bahan bakar.

Sebuah jeda singkat sebelum melanjutkan perjalanan panjang yang seharusnya memakan waktu 12 jam.

Namun, jejak terakhirnya hanya terendus samar di sekitar Reef Manaha Mengkedu.

Setelah itu, hanya ada senyap. Upaya pencarian mandiri keluarga berujung nihil, memaksa harapan digantungkan pada tim penyelamat profesional.

Sabtu (17/1) siang, pukul 14.15 Wita, keheningan di Command Centre Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari pecah oleh sebuah panggilan darurat.

Hasrun, kerabat korban, melaporkan situasi lost contact tersebut dengan nada genting.

Merespons panggilan itu, mesin-mesin Rigid Inflatable Boat (RIB) dan armada penyelamat menderu.

Pukul 14.30 Wita, Tim Rescue Pos SAR Konawe Utara (Konut) diberangkatkan.

Misi mereka jelas namun berat, menembus jarak sekitar 53 Nautical Miles (NM) menuju Lokasi Kejadian Perkara (LKP).

Alam tampaknya sedang tidak bersahabat. Langit di atas perairan Morowali menggantungkan awan tebal yang menyimpan potensi hujan.

Di bawahnya, angin barat bertiup kencang dengan kecepatan 20 knot, menciptakan gelombang setinggi 0,5 hingga 0,75 meter yang siap menghempas lambung kapal penyelamat.

Meski begitu, tim gabungan yang terdiri dari Staf Ops KPP Kendari, Pos SAR Konut, Polair, Pos AL, serta masyarakat setempat bergerak dalam satu komando. Membawa serta peralatan canggih seperti Aquaeye hingga peralatan medis, mereka bersiap untuk kemungkinan terburuk, memacu adrenalin melawan waktu dan cuaca.

Namun, takdir berkata lain. Laut akhirnya berbaik hati memulangkan “anaknya”.

Pada pukul 16.30 Wita, sebuah kabar melegakan memecah ketegangan melalui radio komunikasi.

Pelapor menginformasikan bahwa Kasim Marama telah ditemukan. Sosok paruh baya itu terombang-ambing sekitar 2,77 NM arah timur laut dari lokasi perkiraan awal.

Meski letih digempur angin dan ketidakpastian selama dua hari dua malam, warga Menui Kepulauan itu ditemukan dalam keadaan selamat.

Tanpa membuang waktu, proses evakuasi dilakukan. Kasim dibawa kembali ke Pulau Menui, pulang ke rumah di mana doa-doa keluarga yang tak putus-putusnya telah menantinya.

Kepala KPP Kendari, Amiruddin A.S., mengonfirmasi keberhasilan operasi kemanusiaan ini.

“Dengan telah dievakuasinya korban dalam keadaan selamat, Operasi SAR kecelakaan kapal terhadap satu buah longboat di perairan Padei Laut, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dinyatakan selesai dan ditutup,” tegas Amiruddin.

Tepat pukul 16.40 Wita, Tim Rescue Pos SAR Konut memutar haluan kembali ke Dermaga Molawe.

Mereka tiba saat matahari mulai terbenam pukul 18.00 Wita. Seluruh unsur yang terlibat, para pahlawan kemanusiaan itu, kembali ke kesatuan masing-masing, menutup hari dengan kemenangan telak atas maut.

PUBLISHER: FAJRIN