
KOLAKAsatu.com, SULTRA – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menetapkan target ambisius untuk menurunkan angka prevalensi stunting dari 26,1 persen menjadi 17 persen pada tahun 2026. Langkah ini diambil guna mengejar ketertinggalan dan menyelaraskan capaian daerah dengan rata-rata nasional.
Wakil Gubernur Sultra, Hugua, menegaskan bahwa pencapaian target tersebut memerlukan penguatan intervensi spesifik yang lebih terarah dan terukur. Hal itu disampaikannya saat membuka Pertemuan Evaluasi Pelaksanaan Intervensi Spesifik Stunting tingkat Provinsi di Hotel Claro Kendari, Rabu (8/4/2026).
“Stunting berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi sejak dini. Jika asupan zat gizi esensial tidak terpenuhi, dampaknya akan fatal pada kemampuan fisik, mental, hingga produktivitas generasi mendatang,” ujar Hugua di hadapan perwakilan Dinas Kesehatan se-Sultra.
Untuk menekan angka stunting secara signifikan, Pemprov Sultra menerapkan dua pendekatan parallel. Pertama promosi dan edukasi dengan memberikan pemahaman pola makan bergizi seimbang kepada ibu hamil, balita dan keluarga. Kedua, kuratif, yaitu memberikan layanan pengobatan langsung bagi anak stunting yang memiliki penyakit penyerta atau gangguan penyerapan gizi.
Hugua menekankan bahwa pemerintah provinsi tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi lintas sektor dan wilayah antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota, mulai dari tahap perencanaan hingga eksekusi di lapangan.
Selain koordinasi teknis, Pemprov Sultra juga menyoroti pentingnya pendekatan budaya dalam mengubah perilaku masyarakat. Strategi komunikasi akan dipertajam agar menyentuh aspek sosial dan kebiasaan sehari-hari warga yang menghambat pemenuhan gizi.
Sebagai bentuk pengawasan, pemerintah akan melakukan evaluasi berkala pada pertengahan dan akhir tahun 2026. Hasil evaluasi ini nantinya akan menjadi dasar perbaikan strategi demi memastikan intervensi tepat sasaran di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Publisher: Yusrif
