Sajadah Silaturahmi di Rumah Pers Sulawesi Tenggara

Home, Sultra59 Dilihat
Sajadah Silaturahmi di Rumah Pers Sulawesi Tenggara
Sajadah Silaturahmi di Rumah Pers Sulawesi Tenggara

KENDARI, KOLAKAsatu.com – Matahari sore merangkak pelan menuju ufuk di Kota Kendari, menyisakan rona jingga yang tenang di langit Sulawesi Tenggara.

Di sebuah sudut yang hangat, keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sultra berkumpul, bukan untuk mengejar tenggat berita atau memburu narasumber, melainkan untuk menjahit kembali benang-benang silaturahmi yang kerap terurai oleh kesibukan.

Suasana khidmat menyelimuti ruangan. Di sana, wajah-wajah yang biasanya tegang di balik layar komputer atau lensa kamera, tampak melunak dalam balutan kebersamaan.

Ketua PWI Sultra, Sarjono, berdiri dengan guratan senyum yang tulus. Baginya, pertemuan petang itu bukan sekadar seremoni pengganjal lapar setelah seharian berpuasa, melainkan sebuah ikhtiar batin.

“Kegiatan ini merupakan niat baik kita semua untuk terus menyambung silaturahmi. Saya berterima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian,” ucap Sarjono, suaranya mengalun rendah namun penuh penekanan akan pentingnya kolaborasi.

Di antara deretan kursi, tampak hadir sosok-sosok yang selama ini menjadi mitra strategis pers. Ada Mastri Susilo dari Ombudsman RI Perwakilan Sultra yang hadir membawa spirit pengawasan, serta Prof. Dr. Aris Badara yang mewakili dunia pendidikan.

Tak ketinggalan, Andi Syahrir, Kepala Dinas Kominfo Sultra, yang oleh Sarjono dijuluki sebagai “pengasuh pers”, sebuah sapaan akrab yang menandakan betapa dekatnya hubungan pemerintah dan ekosistem media di bumi anoa ini.

Sejenak, Sarjono membawa ingatan para undangan melintasi lorong waktu. Ia mengenang masa-masa awal saat para pewarta berkumpul dalam wadah yang jauh lebih sederhana.

Kenangan itu menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun pohon PWI sekarang, ia tumbuh dari akar kebersamaan yang kuat.

Menjelang detik-detik azan magrib berkumandang, suasana semakin hening saat Muhammad Adhan, S.AP, dari MUI Sultra, naik ke podium.

Dalam tausiyah singkatnya, sang Dai Wahdah Islamiyah itu menyiramkan kesejukan spiritual, mengingatkan bahwa di atas segala profesi, ketakwaan adalah kompas utama manusia.

Ketika beduk bertalu, kebersamaan itu memuncak dalam tegukan air dan suapan takjil yang sederhana.

Di bawah naungan atap PWI, malam itu tak ada sekat antara pejabat dan kuli tinta.

Semua melebur dalam doa bersama dan ramah tamah yang hangat, membawa pulang semangat baru untuk terus mewartakan kebenaran dengan hati yang bersih.

PENERBIT: FAJRIN