
KENDARI, KOLAKAsatu.com – Di Sulawesi Tenggara, laut bukan sekadar pemisah antarpulau, melainkan detak nadi kehidupan sekaligus tantangan terbesar bagi mereka yang berjuang demi nyawa.
Selama bertahun-tahun, debur ombak sering kali menjadi saksi bisu kisah-kisah pilu, keluarga yang kebingungan membawa pulang jenazah orang terkasih karena terbentur biaya, hingga pasien di pelosok pesisir yang terlambat mendapatkan pertolongan medis karena sulitnya akses transportasi.
Kenyataan pahit di lapangan inilah yang mengetuk hati Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen (Purn) TNI Andi Sumangerukka.
Baginya, kesedihan kehilangan keluarga tidak boleh ditambah dengan kepedihan akibat ketidakmampuan finansial.
Januari 2026 menjadi titik mula perubahan itu. Di Kendari, hiruk-pikuk birokrasi di Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sultra kini memiliki satu fokus utama yakni, merampungkan aturan main untuk layanan ambulans gratis, baik di darat maupun di laut.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, dr. Andi Edy Surahmat, M.Kes, memahami betul beban amanat ini.
Di tengah tumpukan dokumen teknis yang sedang digodok, ia menegaskan, regulasi ini bukan sekadar kertas kerja, melainkan jembatan harapan bagi masyarakat kecil.
“Ke depannya diharapkan tidak ada lagi kesulitan dalam rujukan pasien ke pelayanan kesehatan maupun pemulangan jenazah,” tutur dr. Andi Edy dengan nada optimis.
Ia membayangkan sebuah sistem di mana warga tak perlu lagi memutar otak mencari pinjaman uang hanya untuk membayar sewa mobil jenazah, atau terpaksa menumpangkan jasad keluarga di angkutan umum yang tak layak, sebuah fenomena yang selama ini menjadi “duri” dalam pelayanan publik.
Saat ini, Dinkes tengah berpacu dengan waktu. Bulan Januari ini ditargetkan sebagai garis finis penyelesaian dokumen teknis.
Tujuannya satu, agar setiap rupiah anggaran yang digelontorkan negara benar-benar tepat sasaran, menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Namun, Sulawesi Tenggara itu luas. Membentang dari daratan hingga gugusan kepulauan yang terserak di Laut Banda.
Dinas Kesehatan menyadari, mengandalkan kekuatan sendiri adalah kemustahilan.
Dengan hanya empat unit kendaraan yang tersedia saat ini, tangan pemerintah tak akan cukup panjang untuk merangkul seluruh pelosok Bumi Anoa.
Oleh karena itu, strategi kolaborasi dipilih. Dr. Andi Edy merancang skema kerja sama dengan yayasan-yayasan pemilik ambulans, Puskesmas, hingga Rumah Sakit. Konsepnya adalah gotong royong yang disokong negara.
“Pemerintah dapat membantu dari sisi biaya operasional, seperti bensin atau perawatan bagi yayasan atau mitra yang melayani masyarakat,” jelasnya.
Ini adalah jaminan bahwa jika tangan pemerintah tak sampai, subsidi akan hadir untuk memastikan roda ambulans tetap berputar melayani rakyat.
Di atas segalanya, tantangan terbesar tetaplah topografi kepulauan.
Gubernur Andi Sumangerukka memberikan atensi khusus pada pengadaan ambulans laut.
Bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, perahu medis bukan sekadar transportasi, melainkan “malaikat penolong” yang membelah ombak.
Saat ini, kalkulasi anggaran dan studi kelayakan sedang dimatangkan.
Pemerintah tidak ingin sekadar mengadakan kapal, tetapi membangun sistem operasional yang berkelanjutan.
Berapa biaya bahan bakar untuk menembus ombak, bagaimana perawatannya, semua sedang dihitung dengan cermat.
Jika regulasi ini rampung dan mesin-mesin ambulans itu mulai menderu, baik di aspal maupun di lautan, maka wajah pelayanan kesehatan di Sulawesi Tenggara akan berubah.
Harapan itu kini sedang diperjuangkan, agar kelak, tidak ada lagi warga Sultra yang merasa sendirian dan tak berdaya di saat-saat paling kritis dalam hidup mereka.
PUBLISHER: FAJRIN
