
KOLAKA TIMUR, KOLAKAsatu.com — Cahaya keemasan matahari Ahad (18/01/2026) perlahan menyibak kabut tipis yang memeluk kawasan Pondok Pesantren Al-Buhari Wesalo. Di hamparan lembah itu, keheningan pagi yang biasanya khusyuk, berganti rupa menjadi dinamis.
Suara “ctak!” hasil benturan keras antara kepala stik golf dan bola memecah udara, melesat membelah langit biru di atas Padang Golf Adz-Zikra Lembah Hijau Wesalo.
Hari itu, rumput hijau bukan sekadar alas pijak, melainkan saksi bisu pertemuan lintas generasi yang hangat.
Sebanyak 40 pegolf dari Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur berkumpul di sana. Mereka datang dengan latar belakang beragam, senior yang matang pengalaman, junior yang penuh semangat, hingga pemula yang baru meraba teknik.

Diinisiasi oleh manajemen Adz-Zikra, ajang latih tanding ini digelar bukan semata untuk memburu angka di papan skor, melainkan untuk merajut kembali simpul-simpul persaudaraan yang mungkin sempat longgar oleh kesibukan.
Sejak pukul 07.00 pagi, para peserta menyusuri fairway, menaklukkan kontur tanah yang menantang dengan konsentrasi penuh.
Namun, di sela-sela ketegangan membidik lubang, tawa renyah dan tepukan bahu antarpeserta menjadi pemandangan yang lebih dominan daripada persaingan itu sendiri.
Ketika matahari tepat di atas kepala, sekitar pukul 11.50 WITA, permainan pun usai. Lelah setelah berjalan berkilo-kilometer terbayar lunas saat pengumuman juara dikumandangkan.
Di kelas paling bergengsi, Flight A, H. Jusrin membuktikan kelasnya dengan merebut podium pertama, disusul oleh kepiawaian Ridwan Basnapal di posisi kedua, dan Amir yang mengamankan tempat ketiga.
Persaingan di Flight B tak kalah sengit. Udin Puncak berhasil keluar sebagai juara, diikuti oleh Edy Ceria dan Abdul Muis.
Sementara itu, di Flight C, Gazali Yusuf tampil prima sebagai pemenang, dibayangi ketat oleh Ridwan dan Anwar Sanusi.
Namun, piala hanyalah simbol. Esensi hari itu terungkap saat sosok karismatik, H. Buhari Matta, berdiri di hadapan para peserta.
Lebih dari Sekadar Olahraga
Mantan Bupati Kolaka dua periode sekaligus pendiri Pesantren Al-Buhari Wesalo itu menatap para golfer dengan pandangan teduh.
Bagi sang tuan rumah, kehadiran mereka adalah metafora dari sebuah ikatan keluarga yang tak terputus.
“Latih tanding yang berlangsung hari ini adalah ajang silaturahmi antara orang tua, adik, dan anak,” ucap Buhari dengan nada bersahaja.
Baginya, golf hari itu adalah bahasa kalbu. “Ini saya katakan sebagai ungkapan kedekatan emosional saya dengan semua golfer yang ada,” tambahnya, menegaskan bahwa lapangan hijau hanyalah sarana untuk mempererat hati.
Menutup perjumpaan, sebuah kabar gembira dibocorkan. Semangat kompetisi ini akan segera berlanjut dalam Rektor Cup I.
Turnamen perebutan piala Rektor Institut Agama Islam (IAI) Al-Buhari Wesalo ini direncanakan hadir pada Februari mendatang sebagai penyambut bulan suci Ramadan, atau menjadi ajang halalbihalal usai Idul Fitri.
Siang itu di Wesalo, olahraga telah melampaui definisinya. Ia menjadi jembatan hati, menyatukan semangat kompetisi dengan hangatnya silaturahmi yang menyejukkan jiwa.
ED/FAJRIN
