Ketika Wangi Cengkeh Berubah Jadi Abu

Kendari79 Dilihat
Ketika Wangi Cengkeh Berubah Jadi Abu
Tim damkar bersama beberapa aparat bahu membahu memadamkan api

KENDARI, KOLAKAsatu.com – Malam Minggu di kawasan Pelabuhan Batu biasanya riuh oleh aktivitas bongkar muat atau sekadar debur ombak Teluk Kendari yang tenang.

Namun, pada Sabtu (17/1/2026), langit di atas Kelurahan Sanua tidak gelap seperti biasa. Langit itu memerah, marah, dan menebarkan hawa panas yang menyesakkan dada.

Tepat di belakang Kantor UPTD Pertanian Kota Kendari, aroma khas jambu mete dan cengkeh yang biasanya menjanjikan pundi-pundi rupiah, malam itu berubah menjadi bau hangus yang menyengat.

Pukul 21.55 WITA, ketenangan warga terkoyak. Teriakan panik bersahutan seiring lidah api yang tiba-tiba menari liar di atap-atap bangunan.

Kawasan itu, yang padat dengan struktur kayu dan papan tua, seolah menjadi tumpukan jerami kering yang menanti percikan. Api tak sekadar membakar; ia melahap dengan rakus.

Dalam hitungan menit, si jago merah mengamuk tanpa ampun. Tiga gudang besar yang menyimpan komoditas berharga, jambu mete dan cengkeh menjadi sasaran empuk.

Tak puas sampai di situ, api melompat cepat, menyambar enam kios, melumat empat rumah makan, dan menghanguskan empat rumah warga yang berdiri pasrah di sekelilingnya.

“Begitu menerima laporan, unit pemadam kebakaran segera kami terjunkan,” ucap Drs. Ahriawandy Effendi, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Kendari, dengan nada yang menggambarkan urgensi malam itu.

Raungan sirine dari Pos Benu-Benua membelah jalanan, tiba di lokasi pukul 21.59 WITA, hanya empat menit setelah laporan masuk.

Namun, musuh yang dihadapi kali ini terlalu besar untuk ditaklukkan sendirian.

Armada bantuan dari Mako Damkar Pos Boulevard dan Pos Poasia segera menyusul, membentuk barisan pertahanan air.

Tujuh mobil pemadam dan satu unit rescue dikerahkan. Di bawah sorot lampu rotar yang berputar, petugas Damkar berjibaku melawan hawa panas, dibantu oleh tangan-tangan sigap dari TNI, Polri, Tim SAR, dan komunitas Air Tower yang tak henti menyuplai air.

Mereka bertarung melawan waktu, berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Pertarungan sengit itu berlangsung hampir tiga jam. Baru pada pukul 00.45 WITA, Minggu dini hari, api berhasil dijinakkan.

Saat asap putih mulai menggantikan kobaran merah dalam proses pendinginan, barulah terlihat jelas jejak kehancuran yang ditinggalkan.

Puing-puing hitam yang masih mengepulkan asap tipis menjadi saksi bisu lenyapnya harta benda. Kerugian tak main-main, ditaksir mencapai Rp5 miliar.

Malam itu di Sanua, gudang-gudang rempah telah runtuh, meninggalkan warga yang menatap nanar sisa-sisa kehidupan mereka yang kini rata dengan tanah.

PUBLISHER: FAJRIN