
KENDARI, KOLAKAsatu.com — Riuh tepuk tangan pecah di ruang pertemuan Swiss-Belhotel Kendari, Sabtu (14/02/2026). Di antara aroma kopi dan deru diskusi yang sempat memanas, sebuah mufakat akhirnya lahir.
Musyawarah Provinsi (Muprov) VIII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Tenggara kembali menjatuhkan amanahnya kepada sosok yang sama, Anton Timbang.
Ia kembali terpilih untuk menakhodai kapal besar bernama Kadin Sultra untuk periode 2026-2031. Namun, bagi Anton, kemenangan ini bukanlah panggung untuk membusungkan dada, melainkan sebuah pelabuhan baru untuk memulai pelayaran yang lebih menantang.
Dalam pidatonya yang sarat akan makna, Anton Timbang tidak berbicara layaknya seorang penguasa pasar. Ia justru memilih diksi yang menyentuh sisi humanis para pengusaha.
“Kadin adalah rumah pengabdian kita,” ucapnya dengan nada rendah namun penuh penekanan. “Tempat kita bekerja sama untuk saling mendukung dan menguatkan, bukan tempat kita berkompetisi apalagi saling menjatuhkan.”
Kalimat itu seolah menjadi oase di tengah persaingan dunia usaha yang seringkali dingin. Baginya, setiap capaian yang telah diraih di periode sebelumnya bukanlah pahatan nama pribadi, melainkan lukisan kolektif yang dikerjakan dengan sapuan kuas “kerja ikhlas” oleh seluruh pengurus.
Merajut Visi Sultra Emas
Layar kini telah terkembang. Memasuki babak kedua kepemimpinannya, Anton membawa peta jalan yang ambisius namun terukur.
Di bawah payung besar visi Sultra Emas 2045, ia menitikberatkan tiga pilar utama yaitu, Gerbang Investasi dengan membuka jalan setapak bagi pengusaha lokal agar tak sekadar menjadi penonton di rumah sendiri, melainkan pemain utama di kancah nasional.
Kedaulatan Sumber Daya dengan memastikan bahwa tanah Sulawesi Tenggara yang kaya tak hanya diambil isinya, tapi memberi nilai tambah yang nyata bagi rakyatnya.
Loncatan Digital dengan membawa tangan-tangan kreatif pelaku UMKM lokal untuk menyentuh layar dunia melalui digitalisasi internasional.
Menjelang akhir orasinya, suasana berubah menjadi reflektif. Ada sebuah permintaan yang tulus kepada para pengurus dari pelosok kabupaten dan kota. Anton seolah mengingatkan bahwa sebuah kapal tak akan sampai ke tujuan hanya dengan kapten yang hebat, tapi dengan kru yang setia.
“Jangan biarkan saya berjalan sendiri,” pintanya. Sebuah kalimat sederhana yang menutup tirai musyawarah dengan semangat persatuan.
Sesi foto bersama di penghujung acara bukan sekadar dokumentasi formal. Di Bumi Halooleo siang itu, gambar tersebut menjadi simbol bahwa lima tahun ke depan, ekonomi Sulawesi Tenggara akan digerakkan oleh satu detak jantung yang sama.
PENERBIT: FAJRIN
