Jejak Rapuh di Hutan Wasuamba, Akhir Bahagia Penantian Wa Sani

Buton66 Dilihat
Jejak Rapuh di Hutan Wasuamba, Akhir Bahagia Penantian Wa Sani
Jejak Rapuh di Hutan Wasuamba, Akhir Bahagia Penantian Wa Sani

BUTON, KOLAKAsatu.com – Langit Desa Wasuamba sedang berawan pada Rabu (21/01/2026) pagi, seolah turut merasakan kecemasan yang menggantung selama dua hari terakhir.

Di bawah rimbunnya perkebunan Lasalimu Pantai, sebuah operasi pencarian manusia tengah berpacu dengan waktu.

Objek pencarian itu bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan sesosok wanita senja bernama Wa Sani.

Di usianya yang ke-68 tahun, dengan penglihatan yang mulai rabun dan pendengaran yang tak lagi tajam, ia tersesat sendirian di alam liar.

Namun, keajaiban seringkali datang di saat harapan mulai diuji.Tepat pukul 09.55 Wita, keheningan hutan pecah oleh suara radio komunikasi Tim SAR Gabungan. Sinyal keberhasilan itu berbunyi: Target ditemukan.

Wa Sani ditemukan dalam keadaan selamat. Tubuh rentanya bertahan sekitar 738 meter di arah tenggara dari titik terakhir ia terlihat (LKP).

Jarak yang mungkin dekat bagi kaki muda yang tangkas, namun menjadi labirin tak berujung bagi seorang lansia dengan keterbatasan fisik.

Dua Hari yang Mencekam
Kisah ini bermula pada Senin, 19 Januari 2026.

Seperti kebiasaan warga desa pada umumnya, Wa Sani berangkat ke kebun pukul 06.10 Wita saat matahari baru saja menyapa bumi.

Biasanya, saat bayang-bayang memanjang di pukul 16.30 Wita, ia sudah kembali ke rumah.

Namun hari itu, senja berganti malam, dan sosoknya tak kunjung pulang.

Kepanikan keluarga dan warga yang menyisir hutan malam itu hanya berbuah nihil, hingga akhirnya laporan resmi dilayangkan.

Merespons kondisi membahayakan jiwa tersebut, Kepala KPP Kendari, Amiruddin A.S., mengerahkan kekuatan penuh. Tim penyelamat tak hanya mengandalkan mata telanjang.

Teknologi Drone Thermal diterbangkan untuk memindai suhu tubuh di balik semak, didukung armada Rescue Car dan peralatan medis lengkap.

Sinergi kemanusiaan terjalin erat. Staf Ops KPP Kendari, Pos SAR Baubau, Polsek dan Babinsa Lasalimu, aparat desa, petugas Puskesmas, hingga warga setempat bahu-membahu menembus medan.

Kepulangan yang Dinanti
Setelah ditemukan, tim medis segera melakukan penanganan darurat sebelum mengevakuasi Wa Sani ke Puskesmas Lasalimu.

Di sana, isak tangis kekhawatiran berubah menjadi tangis haru saat ia diserahterimakan kembali ke pelukan keluarga.

Dengan ditemukannya korban dalam kondisi selamat, Amiruddin A.S secara resmi menyatakan Operasi SAR ditutup.

“Seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuannya masing-masing dengan ucapan terima kasih,” tegasnya menutup laporan operasi hari kedua tersebut.

Rabu siang itu, di Desa Wasuamba, mendung mungkin masih menggelayut, tapi badai kecemasan di hati keluarga Wa Sani telah berlalu.

FAJRIN