
BANJARMASIN, KOLAKAsatu.com – Di bawah langit Banjarmasin yang teduh, Senin (12/1/2026), sebuah babak baru dalam sejarah pendidikan Indonesia sedang ditulis. Bukan dengan tinta emas di atas kertas, melainkan dengan harapan yang dipancangkan di dada ribuan anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Di tengah kerumunan itu, Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, berdiri tegak. Matanya menyapu sekeliling, bukan sekadar sebagai tamu undangan, namun sebagai seorang pemimpin yang membawa mandat berat dari “Bumi Anoa”.
Ia hadir di sana, di Sekolah Rakyat Banjarmasin, menyaksikan langsung bagaimana negara, melalui tangan Presiden Prabowo Subianto, sedang membangun “jembatan” bagi mereka yang nyaris putus asa.
Memutus Rantai Kelam Kemiskinan
Angin pagi Kalimantan Selatan membawa suara tegas Presiden Prabowo yang menggema di seluruh penjuru lokasi peresmian. Hari itu, 166 Sekolah Rakyat diresmikan secara serentak di seluruh Indonesia.
“Pendidikan adalah sarana yang paling benar untuk menghilangkan kemiskinan,” ucap Presiden dengan intonasi yang dalam. Kalimat itu bukan sekadar retorika. Bagi anak-anak yang hadir, mereka yang orang tuanya berpeluh keringat sebagai buruh dengan upah tak sampai satu juta rupiah—kalimat itu adalah sebuah janji.
“Sekolah Rakyat ini adalah jembatan masa depan bagi anak-anak yang tadinya mungkin sulit sekolah dan tidak punya harapan,” lanjut Presiden.
Gubernur Andi Sumangerukka tampak mengangguk khidmat. Sebagai purnawirawan jenderal yang kini mengabdi di pemerintahan sipil, ia paham betul bahwa musuh terbesar bangsa bukan lagi penjajah asing, melainkan kebodohan dan kemiskinan.
Kehadirannya di Banjarmasin adalah sinyalemen kuat, Sulawesi Tenggara siap mengadopsi semangat ini.
Sinergi antara pusat dan daerah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Di podium, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, melukiskan gambaran yang lebih rinci.
Sekolah Rakyat ini bukan sekadar bangunan beton tempat menyalin pelajaran. Ia adalah sebuah “ekosistem”.
“Sekolah Rakyat dirancang sebagai ekosistem terpadu yang mencakup perlindungan, pemulihan, dan pemberdayaan,” ujar Gus Ipul.
Bayangkan sebuah tempat di mana 15.954 siswa yang tersebar di 34 provinsi tidak hanya diajarkan matematika atau sejarah, tetapi juga dibasuh luka sosialnya.
Dengan sistem asrama, 2.218 guru berdedikasi membentuk karakter mereka, menegakkan disiplin, bahkan mengenali potensi tersembunyi mereka melalui tes DNA talent.
Ini adalah ikhtiar untuk mengubah nasib, satu anak demi satu anak.
Oleh-oleh untuk Sulawesi Tenggara
Ketika acara beranjak pada sesi dialog antara Presiden dan para siswa, terlihat jelas binar mata anak-anak itu.
Ada perubahan fisik yang lebih bugar, ada kepercayaan diri yang tumbuh mekar setelah beberapa bulan ditempa.
Pemandangan inilah yang akan dibawa pulang oleh Andi Sumangerukka. Bagi Gubernur Sultra ini, peresmian di Banjarmasin adalah cetak biru yang harus segera diimplementasikan di tanah Sulawesi Tenggara.
Komitmennya jelas. memastikan anak-anak di pelosok Sultra, yang terhalang ekonomi, kelak bisa merasakan “Jembatan Emas” yang sama.
Acara usai, namun gema pesan Presiden masih tertinggal. Bahwa pertumbuhan ekonomi hanya angka kosong jika tidak menyentuh piring nasi dan buku tulis rakyat kecil. Dan di sana, Andi Sumangerukka telah membulatkan tekad, siap menyalakan pelita Sekolah Rakyat di timur Indonesia.
PUBLISHER: FAJRIN
