Konflik Tambang PT Askon di Matarape

BERANDA, HUKUM, Sultra76 Dilihat
Konflik Tambang PT Askon di Matarape
Suasana mencekam di lingkar tambang PT ASKON

MATARAPE, KOLAKASATU.COM – Ketegangan kawasan pertambangan nikel di wilayah perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara kembali meluap. Operasional pertambangan PT Astima Konstruksi (PT Askon) di Desa Matarape, Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali, memicu perlawanan keras dari masyarakat lokal akibat dampak lingkungan dan konflik ruang hidup yang tak kunjung terurai.

Aksi demonstrasi yang digalang oleh Aliansi Masyarakat Desa Matarape di jalur pengangkutan (hauling) dan area penyeberangan kapal (jetty) milik perusahaan berujung pada bentrokan fisik dan pengrusakan aset pertambangan.

Peristiwa ini menandai eskalasi tertinggi dari kekecewaan warga yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Akar utama dari eskalasi konflik ini bertumpu pada dampak ekologis harian yang dirasakan langsung oleh permukiman warga Desa Matarape.

Aktivitas armada truk hauling PT Askon yang melintasi kawasan perbatasan menimbulkan debu pekat beracun yang terbang hingga ke pemukiman warga.

Selain persoalan debu dan polusi udara, warga menuding operasional tambang telah merusak lahan-lahan perkebunan dan pertanian milik warga lokal.

Pengikisan lahan, ancaman sedimentasi laut di wilayah pesisir Matarape, serta belum adanya kesepakatan ganti rugi atas ruang hidup warga yang tergerus memicu keresahan yang berkepanjangan.

Warga menilai ekspansi aktivitas tambang dilakukan tanpa memperhitungkan aspek daya dukung lingkungan serta jarak aman terhadap pemukiman warga sipil.

Puncak perlawanan massa pecah ketika aksi blokade jalan hauling berujung ricuh.

Massa aksi yang melampiaskan kekecewaan atas minimnya tanggapan perusahaan merusak dan membakar sejumlah sarana operasional di lapangan.

Sebuah unit alat berat ekskavator dilaporkan membakar serta meremukkan kendaraan penunjang operasional tambang di area perbatasan.

Kerusuhan tersebut menyebabkan sejumlah aset PT Askon hangus terbakar, sementara beberapa warga dan pekerja mengalami luka-luka akibat bentrokan fisik di lokasi kejadian.

Aksi ini menghentikan total aktivitas pengangkutan bijih nikel (ore) menuju dermaga jetty selama beberapa waktu.

Merespons bentrokan yang memanas di batas Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, kepolisian bergerak cepat menurunkan personel skala besar ke lokasi kejadian.

Kepolisian Resor (Polres) Morowali menyiagakan 66 personel gabungan yang disokong oleh 1 Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob Polda Sulawesi Tengah untuk mengamankan obyek vital dan mencegah bentrokan susulan.

Kapolres Morowali secara tegas mengimbau warga Desa Matarape serta pihak perusahaan untuk menahan diri dan menghentikan segala bentuk tindakan main hakim sendiri.

Aparat menegaskan, penegakan hukum akan diberlakukan terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan tindak pidana pengerusakan maupun provokasi kekerasan di area tambang.

Bara konflik di Matarape memantulkan persoalan mendasar tata kelola industri ekstraktif nikel di wilayah perbatasan administratif.

Garis batas antara Morowali (Sulteng) dan Konawe Utara (Sultra) kerap menjadi celah lemahnya pengawasan dampak lingkungan serta penegakan aturan keselamatan warga.

Pemerintah Daerah bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) didesak untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap AMDAL dan operasional PT Askon.

Tanpa adanya penanganan tuntas atas pencemaran debu, ganti rugi kerugian warga, serta skema penyelesaian konflik lahan secara adil, stabilitas keamanan dan sosial di kawasan pertambangan Matarape akan terus berada di ambang krisis.

Laporan ini disusun berdasarkan kompilasi data dan konfirmasi informasi dari berbagai sumber terpercaya, meliputi, Pernyataan resmi dan laporan siaga Polres Morowali serta Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah terkait pengerahan personel pengamanan dan imbauan Kamtibmas di lokasi konflik PT Askon.

Pernyataan Aliansi Masyarakat Desa Matarape terkait dampak pencemaran debu jalan hauling, perusakan lahan, dan pengaduan aktivitas pertambangan.

Catatan liputan lapangan dan pemantauan berita peristiwa dari Media Alkhairaat, Posonews, Batarapos, Sulteng Raya, dan Brita.id mengenai kronologi bentrokan, korban, serta pengerusakan aset di lokasi pertambangan Matarape.

REDAKSI